I made this widget at MyFlashFetish.com.

Agama (2) aneh (9) Fenomena (3) Pengetahuan (40) Sains (12) Sport (4) Tips (15) unik (8)

Jumat, 27 Agustus 2010

Hujan Es dan Angin Merusak 27 Rumah

Sedikitnya 27 rumah warga di Kecamatan Sorek, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, rusak karena dihantam angin puting beliung yang disertai hujan butiran es.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, angin puting beliung itu terjadi pada Kamis (26/8) sekitar pukul 18.20 WIB atau beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa tiba di daerah itu.

"Peristiwa angin puting beliung disertai hujan es terjadi secara tiba-tiba beberapa menit sebelum waktu berbuka tiba," ujar Kapolres Pelalawan, AKBP Ari Rachman Nafarin, yang dihubungi dari Pekanbaru, Kamis malam.

Rumah rusak antara lain milik Andi yang menderita luka ringan pada bagian punggung akibat musibah tersebut.

Menurutnya, ketika terjadi musibah pada petang hari itu, warga melaporkan kondisi gelap kemudian disusul dengan angin kencang dan hujan butiran es.

Kondisi itu menyebabkan warga yang sedang menunggu waktu berbuka, berhamburan lari ke luar rumah. Sedangkan sebagian atap rumah warga yang memakai seng beterbangan dihantam angin.

Meski demikian, hingga kini pihak kepolisian setempat dari Polsek Pangkalan Kuras terus mendata rumah yang rusak sekaligus berjaga-jaga di lokasi kejadian.

"Malam ini personel kami yang dipimpin Wakapolres Pelalawan terus melakukan pendataan terhadap rumah dan korban," jelasnya.
Selengkapnya...

"Bulan Kembar" di Pertengahan Ramadhan


Langit malam pertengahan bulan, 16 Ramadan 1431 H yang jatuh pada hari Kamis (26/8/2010) dihiasi fenomena astronomis yang unik. Dari sekitar Jakarta, cuaca sangat cerah sehingga bulan purnama kelihatan begitu terang, apalagi ditemani kerlap-kerlip bintang dan planet.

Ada yang berbeda malam ini. Selain munculnya bulan penuh, hanya sehari usai purnama kemarin, seperti setiap tengah bulan hijriah lainnya, langit malam beberapa minggu ini juga dihiasi planet-planet yang tergolong sangat terang, seperti Yupiter dan Venus. Kedua planet yang tergolong paling terang di antara planet dan bintang di langit muncul bergantian menemani terangnya bulan.

Fenomena tersebut pantas dijuluki "bulan kembar" meski bulan purnama tentu jauh lebih terang dari planet-planet itu. Andai kebetulan langit cerah dan tak tertutup awan tebal, tak lama setelah Matahari terbenam di ufuk barat, langit malam berganti dihiasi terangnya bulan purnama di timur. Di barat, Venus menampakkan cahayanya yang saking terangnya sampai dijuluki sang bintang Kejora.

Venus tak muncul lama karena ia hanya ada sekitar 90 menit sebelum tenggelam. Namun, tak lama kemudian, dari ufuk barat terbit Planet Yupiter sekitar pukul 20.45 saat jaraknya hanya sekitar 6 derajat di bawah bulan.

Jarak rata-rata Yupiter dan Bulan tampak kira-kira hanya setengah kepalan tangan saja. Keduanya akan bergerak selaras ke arah barat dan bisa dilihat sepanjang malam sampai waktu sahur sekitar pukul 03.00, Jumat (27/8/2010).

Malam ini Yupiter yang merupakan planet terbesar di tata surya memang terlihat lebih terang. Saat ini kebetulan planet tersebut sedang di posisi perihelium, jarak terdekat dengan Matahari, sehingga terlihat lebih besar dari Bumi.

Dibanding saat aphlium atau jarak terjauh dengan Matahari, yang terjadi tahun 2005, ukurannya terlihat 11 persen lebih besar dan tingkat keterangannya sampai 1,5 kali lipat dilihat dari Bumi.

Tentu fenomena tersebut hanya kebetulan terjadi pada bulan Ramadan kali ini. Namun, keunikan tersebut tentu pantas diamati meski sekadar disaksikan sekilas saja untuk mengingatkan kita terhadap kebesaran Sang Pencipta. Apalagi kalau Anda punya teleskop, peristiwa ini tentu haram dilewatkan.
Selengkapnya...

Kamis, 26 Agustus 2010

Tim Perancis 1998 Terindikasi Doping

Kasus konflik di tubuh timnas Perancis pada Piala Dunia 2010 belum menguap, kini muncul kontroversi baru. Bekas dokter "Les Bleus" mengungkapkan, ada beberapa pemain anggota tim yang juara Piala Dunia 1998 berbau doping.

Jean-Pierre Paclet, mantan dokter timnas Perancis itu, mengungkapkan banyak aib di tubuh Les Bleus. Itu termuat dalam bukunya berjudul Implosion yang akan dirilis Kamis (26/8/2010) ini.

Buku ini mengungkapkan bagaimana hubungan buruk Franck Ribery dengan Samir Nasri, juga alasan kenapa pelatih Raymond Domenech mengawini pacarnya setelah Piala Eropa 2008.

Yang paling kontroversial, Paclet mengungkapkan ada beberapa pemain Perancis yang juara Piala Dunia 1998 yang terindikasi doping. Sampel darah beberapa pemain Perancis saat itu menunjukkan keanehan. Mereka rata-rata pemain yang merumput di Italia.

Ini jelas menunjuk kepada Vincent Candela (AS Roma), Youri Djorkaeff (Inter Milan), Marcel Desaille (AC Milan), Zinedine Zidane (Juventus), Alain Boghossian (Sampdoria), dan Lilian Thuram (Parma). Namun, dokter timnas Perancis waktu itu, Jean-Marcel Ferret, membantah tuduhan itu.

"Bagi saya, itu hanya bualan. Segalanya berjalan normal. Semua pernyataan di buku itu tak berdasar. Saya punya buktinya dan menjaga segalanya," kata Ferret.

Pelatih Perancis saat ini, Laurent Blanc, mendukung pendapat Ferret. "Tuduhan adanya doping dalam tim Perancis 1998 adalah kebohongan. Mari kita memerhatikan hal yang benar-benar ada saja," tegas Blanc yang juga anggota tim Perancis 1998.
Selengkapnya...

Cerobong Asap di Dasar Laut Sangihe

Tim Indonesia Ekspedisi Sangihe Talaud atau Index/Satal 2010 kerja sama Indonesia-Amerika Serikat berhasil mengidentifikasi sebagian temuannya. Di antaranya, di kedalaman sekitar 2.000 meter ditemukan cerobong gunung api bawah laut yang bersuhu 300-400 derajat celsius.

Ekspedisi itu dimulai awal Juli 2010 dan direncanakan berlangsung sampai 10 Agustus 2010.

Kegiatan tersebut melibatkan 32 ilmuwan Indonesia dan 12 ilmuwan Amerika Serikat yang menganalisis hasil-hasil eksplorasi bawah laut dengan kapal riset Okeanos Explorer melalui Pusat Komando Penelitian di kantor Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan di Ancol, Jakarta Utara, serta di Seattle, Amerika Serikat.

"Di perairan Sangihe Talaud ada aktivitas vulkanik, tetapi belum diketahui hingga kini seberapa aktif," kata Ketua Tim Periset Indonesia dalam Index/Satal 2010 Sugiarta Wirasantosa, ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (11/7/2010).

Kandungan larutan bersuhu tinggi dari perut bumi itu mengandung mineral, logam, dan gas, yang dipengaruhi suhu air laut dalam yang mencapai 2-4 derajat celsius. Hal ini menimbulkan aliran larutan dari perut bumi itu memperoleh pendinginan mendadak.

Ekosistem tersendiri

Menurut Sugiarta, pendinginan mendadak itu menimbulkan endapan yang akhirnya membentuk lapisan cerobong. Air laut di sekitarnya pun menjadi tidak terlampau dingin atau tidak terlampau panas sehingga menjadi ekosistem tersendiri dan bisa menjadi habitat bagi biota-biota laut tertentu.

"Dari pengambilan gambar dengan kamera video bawah laut dalam, diperoleh gambar biota berbagai jenis, mulai dari cacing-cacingan, udang, kepiting, dan ikan yang semua berwarna sangat mencolok," katanya.

Belum mampu

Secara terpisah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Soeharsono mengatakan, pertemuan lempeng kerak bumi menimbulkan gunung api bawah laut. Ini terjadi tidak hanya di bagian utara Pulau Sulawesi, tetapi juga di lokasi lain di Indonesia.

"Selama ini kita belum mampu mengeksplorasi pengetahuan tentang laut dalam. Wilayah-wilayah perairan di utara Papua, selatan Sulawesi, atau di Laut Banda, Maluku, misalnya, tak akan jauh beda dengan Sangihe Talaud yang kini sedang dieksplorasi dengan kapal riset Okeanos Explorer milik Amerika Serikat tersebut," kata Soeharsono.

Aktivitas gunung api bawah laut, menurut Soeharsono, juga ada di perairan dangkal. Ia menyebutkan, di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, malah terdapat aktivitas gunung api bawah laut dengan kedalaman 100-200 meter. Namun, eksplorasi ilmu pengetahuan tentang itu masih sangat sedikit.

Soeharsono mengatakan, sekitar tahun 2003 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah bekerja sama dengan Australia untuk mengidentifikasi gunung api bawah laut di Sangihe Talaud. Pada waktu itu ditemukan kandungan larutan yang keluar dari perut bumi, kemudian membentuk cerobong-cerobong itu. Di antaranya ternyata mengandung emas.
Selengkapnya...

Wow, Bintang Baru Dikelilingi 7 Planet

Para astronom Eropa menemukan sebuah bintang yang dikelilingi tujuh planet. Ini merupakan penemuan eksoplanet terbesar sejak 15 tahun lalu. Bintang ini mirip dengan sistem tata surya. Meski begitu, belum ditemukan bukti bahwa tata surya itu layak menjadi tempat tinggal manusia kelak.

Bintang itu adalah HD 10180, berada pada jarak 127 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi bintang selatan Hydrus, ular air jantan, demikian laporan European Southern Observatory (ESO) dalam siaran pers Selasa (24/8/2010). Mereka mendeteksi lima planet besar, seukuran Neptunus, tetapi mengorbit dalam setahun antara enam hari dan 600 hari. Dua planet lain, yang satu seukuran Saturnus, mengorbit selama 2.200 hari. Sedangkan planet lainnya, 1,4 kali massa Bumi, mengorbit bintang HD 10180 hanya dalam waktu 1,18 hari Bumi mengitari Matahari.

Jadi, ini merupakan sistem bintang dengan tujuh planet. Sedangkan sistem Matahari memiliki delapan planet. Astronom ESO, Christophe Lovis, mengatakan, ”Kita tengah memasuki era baru penelitian eksoplanet, studi tentang sistem planet yang kompleks dan bukan planet satu per satu.” Menurut NASA, sejak 1995, terdeteksi 402 bintang dengan planet-planetnya. Sejauh ini tidak ada di antara planet-planet itu, meski mirip dengan Bumi, memiliki suhu yang memungkinkan adanya air dan kehidupan.
Selengkapnya...

Rabu, 25 Agustus 2010

Pulau Es Baru Kajian Menarik

Bongkahan es yang terpisah dari gletser Greenland, dekat Kutub Utara, pada akhir pekan lalu merupakan yang terbesar dalam sejarah 50 tahun terakhir.

"Bongkahan es yang terlepas itu tidak mungkin menyatu kembali dengan gletser Greenland," kata ahli fisika lingkungan Hidayat Pawitan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (11/8/2010) di Bogor.

Menurut Hidayat, jika pecahnya bongkahan es tersebut dipengaruhi oleh sirkulasi laut global yang menghangat, semestinya sudah bisa diprediksikan hingga setahun atau lebih sebelumnya.

Jika bongkahan es itu akibat peningkatan suhu pada atmosfer, bisa berlangsung lebih cepat. "Kedua-duanya merupakan fenomena yang bisa berpengaruh," kata Hidayat.

Seperti diberitakan Reuters dan AFP, bongkahan es itu memiliki luas 260 kilometer persegi. Ketinggian yang tampak di atas permukaan diperkirakan setengah dari gedung Empire State di New York, Amerika Serikat, atau sekitar 150 meter.

Ahli ilmu dan teknologi kelautan dari Universitas Delaware, Amerika Serikat, Andreas Muenchow, mengungkapkan, bongkahan es itu terpisah dari gletser Petermann. Gletser ini merupakan satu dari dua yang terbesar yang berada di Greenland.

Muenchow memperkirakan, volume air tawar dalam bongkahan es tersebut adalah volume aliran Sungai Hudson di Delaware selama dua tahun. Volume itu juga disamakan dengan kebutuhan 120 hari publik AS akan air tawar dari keran.

Sebagai ilmuwan, Muenchow tidak bisa secara langsung memastikan penyebab bongkahan es itu akibat pemanasan global. Meskipun diketahui bahwa enam bulan pertama tahun 2010 ini merupakan masa yang terpanas.

"Aliran air laut di bawah gletser merupakan salah satu penyebab utama terjadinya bongkahan es," kata Muenchow.

Minus 80 derajat celsius

Hidayat Pawitan mengutarakan, bongkahan es yang muncul ke atas permukaan air laut hanyalah 10 persen. Selebihnya, 90 persen bongkahan es tersebut ada di bawah permukaan air laut sehingga bisa mencapai kedalaman sekitar satu kilometer.

"Pusat bongkahan es memiliki suhu yang berkisar sampai minus 80 derajat celsius. Pelelehannya masih akan memakan waktu tahunan lamanya," kata Hidayat.

Mengenai sirkulasi air laut yang berpengaruh saat ini, menurut Hidayat, masih berasal dari selatan ke utara. Ini mengakibatkan tidak akan terjadi pergeseran bongkahan es.

Selain memakan waktu lama, pergeseran bongkahan es sedalam tersebut bahkan bisa terhenti karena ada kemungkinan bagian bawahnya tersangkut di dasar laut.

"Pada Desember 2010 nanti pola sirkulasi laut akan berubah dari utara ke selatan," katanya. Dengan perubahan arah arus tersebut, bongkahan es akan bergerak ke selatan dengan kecepatan amat rendah.

Menurut dia, fenomena pelelehan es atau terpisahnya bongkahan es dari gletser utama selalu terjadi sepanjang sejarah.

Dicontohkan, negara Arab Saudi bahkan sampai memanen bongkahan es dari gletser di Kutub Selatan untuk diambil kandungan air tawarnya.

"Setahu saya, Arab Saudi sudah mengembangkan penarikan bongkahan es dari gletser Kutub Selatan sejak tahun 1980-an untuk diubah menjadi cadangan air tawarnya," kata Hidayat.

Hidayat mengatakan, bongkahan es tersebut berada di antara Greenland dan Kanada. Suhu air laut yang berada di sekitar bongkahan masih memungkinkan terjadinya pembekuan sehingga massa bongkahan es membesar.
Selengkapnya...

Manusia Juga Hancurkan Habitat Penyu


Habitat penyu di pesisir Kabupaten Lampung Barat terancam hilang atau punah dalam beberapa tahun mendatang akibat pembangunan yang tidak berbasis lingkungan.

"Penyu yang mendarat di pantai Lampung Barat merupakan habitat terbesar di dunia dan jumlah penyu yang mendarat di sana dari tahun ke tahun terus menurun," kata Direktur LSM Mitra Bentala, Herza Yulianto, di Bandar Lampung, Sabtu (21/8/2010).

Dia menjelaskan, kondisi pesisir Lampung barat saat ini telah mengakibatkan penyu enggan mendarat di kawasan tersebut.

"Sejumlah area hijau dari garis pantai hingga jarak 10 meter dari daratan banyak yang rusak. Salah satu penyebabnya karena telah mengalami alih fungsi menjadi permukiman," kata dia.

jumlah habitat penyu, katanya, terus menurun dan ironisnya saat ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Barat belum memiliki data valid tentang jumlah terkini habitat itu.

"Kita dan DKP, sebagai pemilik kebijakan setempat, akan melakukan survei dan penelitian tentang jumlah pasti habitat penyu di Pesisir Lampung Barat untuk menjadi pijakan dasar dalam melakukan langkah pelestarian selanjutnya," kata dia.

Herza mengatakan, data terakhir yang dimiliki kedua instansi tersebut adalah data tahun 2006. Data tersebut menunjukkan ada empat jenis penyu yang biasa mendarat di pesisir Lampung Barat dan jumlahnya tinggal 165 ekor.

Penyu-penyu tersebut terdiri atas penyu hijau 30 ekor, penyu sisik 30 ekor, penyu belimbing 15 ekor, dan penyu lekang 90 ekor. Faktor penyebab populasi penyu yang mendarat di pesisir itu semakin menurun, kata Herza, selain karena berkurangnya luasan green belt area, juga didorong oleh berbagai faktor lain.

Sejumlah faktor pendorong tersebut adalah pemanfaatan penyu dan telur penyu yang tidak ramah lingkungan serta penangkapan dan perdagangan penyu yang tidak sah.

"Harga telur penyu di pasar saat ini sangat menggiurkan, Rp 10.000 per dua butirnya," kata dia.

Selain itu, Herza menambahkan, beberapa faktor pendukung penyebab menurunnya populasi penyu lainnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap biota penyu, pengawasan dan penegakan hukum di bidang perikanan yang masih rendah, dan lemahnya koordinasi antar-stake holder.

"Harus ada kesinergian kerja sama dan kesamaan visi antarlembaga swadaya masyarakat, pihak swasta, masyarakat, dan pemerintah untuk menyelamatkan penyu," kata dia.

Populasi penyu yang mendarat di Pantai Pesisir Lampung Barat termasuk terbesar di dunia karena empat dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia mendarat di wilayah itu.

Panjang garis pantai di kabupaten itu adalah 210 km atau sekitar 19 persen dari garis pantai di Provinsi Lampung, serta luasnya 1.105 kilometer persegi dengan potensi lestari hasil laut (ikan, lobster, tuna, penyu) mencapai 90.000 ton per tahun.

Pada tahun 2005, DKP Lampung Barat mencanangkan zona kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di sepanjang jalur pantai pesisir Kabupaten Lampung Barat.
Selengkapnya...

Cadangan Es Setebal 800 Meter Ditemukan di Mars

Para ilmuwan NASA telah menemukan cadangan es dalam jumlah besar di bawah permukaan Planet Mars jauh dari kutubnya. Penemuan ini semakin menguatkan pendapat bahwa kehidupan mungkin masih dapat bertahan di sana.

Cadangan es dideteksi radar yang mampu menembus ketebalan tanah dari Mars di wahana Mars Reconnaissance Orbiter yang mengorbit Mars. Temuan ini mengejutkna karena terdapat di Cekungan Hellas di belahan selatan yang jauh dari kutub.

Pengukuran radar menunjukkan salah satu cadangan es yang terdeteksi memiliki ketebalan hingga lebih dari 800 meter terkubur di bawah lapisan tanah dan batuan. Sementara luas cadangan tersebut mencapai tiga kali luas Kota Los Angeles, AS.

"Secara keseluruhan, gletser-gletser ini hampir dapat dipastikan sebagai cadangan air beku terbesar di Mars, dan bukan tudung es di kutub," kata John Holt, seorang pakar geofisika pada Universitas Texas, Austin, AS yang juga penyusun utama laporan tentang penemuan tersebut. Laporan penemuan itu dipublikasikan dalam jurnal Science edisi 21 Nopember.

Para ilmuwan pada tim riset beranggotakan 12 orang itu menduga cadangan air beku itu adalah peninggalan Jaman Es di Mars pada jutaan tahun silam. Karena air merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan, para ilmuwan mengatakan keberadaan es adalah tanda yang menjanjikan bagi kehidupan di luar Bumi.

Mars adalah satu-satunya planet yang permukaannya dapat dilihat secara terinci dari Bumi. Suhunya antara -140 derajat Celsius hingga 20 derajat celsius. Sebelumnya telah ditemukan bukti-bukti cadangan es di sekitar kutub. Wahana Phoenix Mars Lander bahkan telah membuktikan bahwa di bawah permukaan kutub Mar terdapat molekul-molekul es.

Di samping nilai ilmiah penemuan tersebut, cadangan es ini juga dapat dipertimbangkan menjadi sumber air untuk mendukung penjelajahan Mars mendatang.
Selengkapnya...

Aurora di Mars Berhasil Dipetakan

Fenomena munculnya cahaya berwarni-warni di atas langit kutub yang biasa disebut aurora juga terjadi di atmosfer planet selain Bumi. Jika di Saturnus baru saja diketahu, di Planet Mars malah sudah berhasil dipetakan.

Kemunculan aurora-aurora di Mars sepanjang tahun berhasil direkam wahana Mars Express milik badan antariksa Eropa yang kini mengorbit planet tersebut. Tim peneliti dari Perancis berhasil mengamati sembilan aurora di atmosfer Mars dan menyusunnya dalam satu peta.

Cahaya-cahaya tersebut tampak dengan warna antara hijau hingga ungu. Seperti hlanya aurora yang terbentuk di atsmofer Bumi, cahay tersebut pada dasarnya ultraviolet yang terbentuk saat partikel-partikel bermuatan lsitrik dari Matahari bereaksi karena pengaruh medan magnet planet tersebut.
Selengkapnya...

Murid SMP Temukan Goa Misterius di Mars

Sekelompok murid kelas VII—setara kelas I sekolah menengah pertama—menemukan goa misterius di Planet Mars. Saat itu, mereka tengah mengerjakan proyek riset guna mempelajari citra yang diambil pesawat ruang angkasa NASA yang mengorbit di planet merah itu. Temuan itu berupa penampakan yang diduga merupakan lubang pada atap goa.

Keenam belas anak tersebut merupakan murid kelas sains dari Dennis Mitchell, guru kelas VII di Evergreen Middle School di Cotton Wood, California. Para murid itu tengah berpartisipasi dalam kegiatan Mars Student Imaging Program di Mars Space Flight Facility di Arizona State University.

Murid-murid diminta membuat semacam proposal riset dan kemudian diperbolehkan menggunakan kamera yang tengah mengorbit di Mars untuk mengambil gambar guna menjawab pertanyaan riset mereka.

Lubang yang mirip dengan temuan baru itu pernah ditemukan sebelumnya di bagian lain Mars pada 2007 oleh Glen Cushing, seorang ahli geologi asal Amerika. Cushing berpandangan, citra yang ditangkap itu menyerupai "lubang atap", tempat sebagian dari atap goa atau lubang aliran lava runtuh.

Liang itu diduga diakibatkan oleh aktivitas vulkanik di planet merah. Pada suatu masa, aliran lava keluar dari permukaan batuan dan meninggalkan bekas berupa liang setelah erupsi usai.

Ujung lubang itu tertutup oleh material yang mendingin dan sebagian "pipa" bekas aliran lava itu bisa saja ada yang ambruk.

Sejauh ini, para ilmuwan belum dapat memastikan jenis material yang tersimpan di dalam goa itu. "Lubang ini baru bagi kami para ilmuwan," ujar Cushing kepada para murid. Dia memperkirakan ukuran lubang itu 190 meter x 160 meter dan kedalamannya 115 meter.

Memburu aliran lava

Riset para murid itu bertujuan memburu pipa lava yang merupakan fenomena vulkanik di Bumi dan Mars.

"Mereka mengembangkan sebuah proyek riset dengan fokus menemukan lokasi "pipa" lava yang paling lazim di Mars. Apakah fenomena itu paling sering terjadi di puncak, sisi, atau dataran sekitar gunung," ujar Mitchell, guru mereka.

Mereka lalu meneliti sebuah foto utama dan cadangan dari Pavonis Monsvolcano (gunung) di Mars. Gambar itu diambil oleh alat penangkap citra Thermal Emission Imaging System (THEMIS) dari Odyssey, milik NASA yang sedang mengorbit. Foto cadangan yang mereka teliti malah memberikan kejutan: sebuah citra bundar gelap. Citra itu merupakan lubang di Mars yang mengarah kepada adanya goa terkubur di planet itu.

Temuan itu akan diperjelas lagi menggunakan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) pada Mars Reconnaissance Orbiter. Alat itu bisa menampilkan lebih banyak detail guna melihat ke dalam lubang itu.
Selengkapnya...